Oleh-Oleh dari Jendela Ide

Jendela_ide_final


Sekilas saya menemukan banyak hal ‘aman’ dalam lukisan Tiara: awan biru, burung-burung dua garis lengkung, rumput hijau, kayu coklat, dan latar belakang yang putih polos karena tidak diapa-apakan. Kesan pertama yang saya dapat adalah pelukisnya merupakan anak kecil yang pretensius. Maksudnya dia terlalu banyak mengambil langkah aman supaya lukisannya bisa dibilang bagus. Kaki ini ingin beranjak sebelum kepala saya menegurnya, “Hei, bukannya kamu juga pretensius?”

 
Waktu kecil ada banyak aturan yang muncul ketika guru saya memerintahkan muridnya melukis. Jangan bikin kotor! Warnanya mesti rata! Jangan melampaui garis! Mewarnainya mesti searah! Dan sebagainya. Dan lain-lain. Lama-lama saya takut sendiri kalau-kalau sketsa saya kotor saat diwarnai. Saya mulai membuat gambar-gambar yang aman untuk diwarnai—termasuk dua gunung dan sebuah matahari di tengah-tengahnya. Saya teridentifikasi dengan lukisan Tiara dan merasa kenal si pelukisnya secara personal. Saya suka Tiara apa adanya, meskipun lukisannya terlalu aman.

 
Begitu kenal dan suka, saya jadi betah memandangi lukisan ini lama-lama. Bahkan saya mendadak tersadar ternyata Tiara tak sekadar berpegang pada yang ‘aman’, tetapi juga bisa melakukan hal yang tidak biasa! Alih-alih mewarnai wajah anak perempuan dalam lukisannya dengan warna kuning atau coklat muda, Tiara memilih warna biru. Jemari si anak perempuan diwarnai hijau muda serasi dengan matanya. Matahari pun berwarna merah. Tidak kalah keren Tiara memakaikan si anak perempuan dalam gambar sweater leher kura-kura kuning yang kerahnya semerah celana panjangnya.

 
Saya sangat terwakili oleh lukisan ini, yang di satu sisi terlalu ‘aman’, tetapi di sisi lain berusaha tetap orisinal. Bisa jadi jatuhnya kelihatan biasa saja. Seperti orang-orang yang memandang saya biasa atau malah kurang penting. Barangkali ini hanya sebentuk narsisme saya saja. Namun ingin rasanya memeluk lukisan ini dan membawanya pulang.

 
Tulisan ini dibuat ketika Reading Lights Writer’s Circle mengadakan pertemuan mingguannya di Jendela Ide, Sabuga. Foto oleh Erick. Reportase lengkap Myra dalam waktu dekat bisa dilihat di sini. <!-- ckey="6DF48C85" -->

                            

Huek, Resensi Yang Ditolak 2: Trip to the Wound

Edwin

Judul film: Trip to the Wound

Sutradara dan Penulis skenario: Edwin

Penata Kamera: Sidi Saleh

Pemain: Ladya Cheryll, Carlo Genta Saputra

 

Dua kali saya menonton Trip to the Wound. Pengalaman pertama berlangsung di sebuah pertemuan penulis pemula yang rutin saya kunjungi. Arief Ash-Shiddiq, fasilitatornya kala itu, tengah membuat tulisan tentang film-film Edwin, sutradara Trip to the Wound. Sambil membuat kerangka tulisannya, redaktur majalah Visual Art itu menjelaskan pengaruh struktur bagi penyampaian makna cerita kepada saya dan penulis pemula lainnya.

 
“Sekalipun ceritanya rumit, kalau strukturnya jelas maka orang lain juga bisa paham,” kurang lebih begitu kata Arief. Sebagai contoh ia lantas memutarkan A Very Slow Breakfast, Dajang Soembi, Kara, A Very Boring Conversation, dan Trip to the Wound secara berurutan. Kelar dua film diputar, Arief memperlihatkan adanya kesamaan struktur antara keduanya yang bisa dijadikan petunjuk untuk memahami film tersebut. Pertama, Edwin menggunakan ‘panggung’ dalam kedua film, panggung yang dibuat begitu sempit sehingga karakter-karakternya terpaksa berinteraksi. Kedua, Edwin memanfaatkan hal-hal teknis, seperti perubahan gerak kamera, tata suara, pencahayaan, dsb, guna menekankan adegan-adegan yang dianggapnya penting.

 
Ketika struktur yang sama dan makin matang keluar pada film-film berikutnya, kami mulai bisa meraba-raba apa yang sebenarnya ingin disampaikan sutradara. Kekaguman kami memuncak pada A Very Boring Conversation yang menjebak. Sayang kami gagal memecahkan makna Trip to the Wound. Arief sendiri saat itu bilang tak melihat adanya gebrakan pada Trip to the Wound, “Edwin udah membuat penonton jadi pengganggu di Kara. Penonton juga udah berburuk sangka di Boring Conversation. Mana yang baru?” Kami pun setuju tanpa banyak perdebatan.

 
Berbulan-bulan kemudian saya kembali menonton Trip to the Wound. Kali ini pada pemutaran antologi 9808 di Selasar Sunaryo. Rupanya film ini termasuk dalam sepuluh film pendek dalam 9808, sebuah antologi sepuluh tahun reformasi yang bertolak dari peristiwa Mei 1998. Trip to the Wound bercerita tentang seorang perempuan muda (Ladya Cheryll) yang berjumpa laki-laki sebayanya (Carlo Genta Saputra) dalam sebuah perjalanan. Entah dari mana si perempuan tahu ada bekas luka di bahu si laki-laki, mereka pun terlibat dalam percakapan tentang luka. Seiring bergulirnya roda-roda bus, mereka tak cuma terlibat dalam percakapan saja. Tiba-tiba lampu di kepala saya menyala. Saya baru sadar ada satu lagi petunjuk yang tak didapatkan waktu pertama kali menonton Trip to the Wound: latar belakang film. Teka-teki makna film ini pun sedikit terkuak.

 
Saya teringat pesan Arief, untuk memahami film Edwin perhatikan hal-hal teknis yang berubah. Saat Edwin yang biasanya minim berdialog (kecuali A Very Boring Conversation) tiba-tiba jadi cukup cerewet dalam Trip to the Wound, penonton boleh percaya kalau dialognya memuat pesan penting. Perubahan suasana kembali terasa ketika kamera menyorot para karakter dari sela-sela bangku bus, membuat penonton mengalami sensasi mengintip. Dan memang mengintip. Besar kemungkinan adegan ini juga salah satu kunci pemaknaan Trip to the Wound. Coba kaitkan dialog dan adegan ‘mengintip’ tadi dengan peristiwa Mei 1998 yang merupakan titik tolak pembuatan film ini. Apakah lampu di kepala Anda juga menyala?

 
Bagi saya Trip to the Wound bisa jadi merupakan cerita tentang luka yang dalam. Luka yang sekalipun akan kering, namun bekas lukanya tetap sulit dipercakapkan. Luka ini belum tentu dipahami semua orang, meskipun si perempuan telah mencoba menunjukkannya. Meskipun Edwin telah mencoba menunjukkannya. Percakapan soal bekas luka berujung pada bagaimana luka terjadi dan tak semua orang ingin kembali ke ingatan terburuknya.***

 



Gambar dipinjam dari sini

 

Pindahan

8 Juli 08

 
Reading Lights Writer’s Circle Diary pindah ke blog baru. Kali ini siapa saja bisa ikut menulis. Siapa saja bisa ikut berkomentar. Enjoy!

Kali Ini Pendek Saja

29 Jun. 08

Crim0057_1


Berhubung internet di rumah mati dan saya sedang konsentrasi bikin resensi, entry diary kali ini pendek saja.

 
Berhubung kemarin sore hujan turun sangat deras, peserta yang hadir pada Reading Lights Writer’s Circle in Indonesian tak sebanyak biasanya.  Kami adalah Mirna, Erick, Myra, Wahyu, Selvi, saya, dan Nila the newcomer.

 
Berhubung Erick telat dan mengejar agar pertemuan The Circle kelar jam enam, latihan menulis tidak diadakan. Sebagai gantinya kami membacakan karya yang ada. Saya membaca sebuah cerpen lama dan resensi ini. Mirna membacakan esei tentang interpretasi seni rupa yang elusif dan eksklusif. Erick membacakan resensi Alexandra yang berhalangan datang.

 
Pengumuman:

Berhubung materinya adalah meresensi lukisan karya anak-anak, maka pada tanggal 12 Juli, pertemuan The Circle akan diadakan di Jendela Ide di Sabuga mulai dari jam 2 siang.

 

Sabtu Nonton

20 Juni 08

 
Setiap sebulan sekali, Reading Lights Writer’s Circle in Indonesian melakukan acara nonton bersama. Jika There Will Be Blood merupakan film yang sama-sama ditonton terakhir, maka kali ini filmnya adalah Persepolis, sebuah film yang diangkat dari novel grafis otobiografi berjudul sama karya Marjane Sartrapi.

 
Persepolis adalah film pilihan Erick. Selain film ini, sebetulnya putra dari aktor Robert Syarif ini juga membawa alternatif film lain, judulnya Pom Poko. Persepolis akhirnya jadi pilihan Erick untuk ditonton bersama karena ia juga belum menonton film ini. Selain Erick, adapun yang pada sore hari kemarin sama-sama belum menonton Persepolis adalah Uli, Fadil, Alexandra, Zia, Opik, Selvi, Wahyu, saya, dan Myra—dengan kata lain ini merupakan pengalaman pertama bagi kami semua. Sayang Dea sedang nggak ada, padahal dia suka dengan versi komiknya.

 

Crim0064_1










Kopi Persepolis yang kemarin diputar didapatkan Erick dengan mengunduh dari internet. “Nggak apa-apa,” ujarnya ketika memasang kabel yang menghubungkan laptop dengan in-focus, “Film ini nggak muncul-muncul di bioskop, dan lagi bajakan yang ada subtitle-nya nggak betul, padahal ini pakai Bahasa Perancis.”

 
Lampu dimatikan, film pun diputar. Berlatarbelakangkan perubahan situasi politik di Iran, Persepolis bercerita tentang proses pencarian jati diri Marjane Sartrapi. Persepolis sendiri merupakan nama ibukota Iran sebelum berganti menjadi Teheran. Pergantian kekuasaan bisa jadi menyebabkan pergantian nama tempat, contoh: Irian Jaya -> Papua, Leningard -> St. Petersburg, dll. Persepolis menggunakan plot yang bergerak mundur, yang membedakan antara masa kini dengan masa lalu adalah warna. Apabila pada bagian masa lalu warnanya hitam putih, ada warna lain di bagian masa kini. Film ini juga menggunakan narasi voice over.

 
Erick menyalakan lampu pada bagian credit ends. Seperti biasa ia menugakan kami untuk membuat tulisan, entah resensi atau sekadar catatan tentang momen mana yang paling berkesan. Erick mengatakan selain menyukai musiknya, dia juga memikirkan tentang berapa besar porsi pengalaman pribadi yang dijadikan cerita komik, berapa besar porsi komik yang dijadikan ke film, berapa besar bagian yang dikarang-karang untuk membuat film jadi seru. Alexandra mengatakan ia harus membaca tentang Marjane Sartrapi sebelum bisa berkomentar lebih jauh. Uli terkagum dengan jalan hidup Marjane. Saya suka karena adaptasi ini setia dengan komiknya. Saya terkagum dengan film kartun hitam putih. Sederhana tetapi tegas, walaupun kadang-kadang karakternya terasa kurang menyatu dengan background. Saya kepikiran perkataan Erick tentang porsi pengalaman pribadi yang dijadikan ke komik dan jadi ingin berkomentar, “Katakanlah lu bikin graphic diary. Mestinya lu menggambar tentang kehidupan elu, bukan kehidupan orang lain.” Hahaha!

 
Kebetulan sewaktu menulis diary ini saya bertemu dengan Selvi di Yahoo! Messenger. Tiba-tiba saya terpikir membuat wawancara dadakan yang setelah diedit sedikit akan saya jadikan penutup tulisan ini. Ngomong-ngomong, kemarin Erick bilang dua minggu lagi, tanggal 5 Juli, programnya adalah belajar membuat resensi untuk seni rupa jadi kumpulnya di Jendela Ide. Kepastiannya minggu depan, sih. Untuk ide film buat acara nonton bareng bulan depan, saya mau mengajukan Me and You and Everyone We Know. Sepertinya saya harus mulai berpromosi dari minggu depan untuk bisa menggolkan film ini.

 
Andika Budiman (AB): Selvi, lagi sibuk nggak?

Selvi (S): Nggak. Memangnya kenapa?

AB: Mau ngajak ngobrol saja, saya lagi stuck bikin diary tentang acara nonton kemarin.

S: (Tertawa) Silakan saja!

AB: Jadi bagaimana pendapat kamu tentang Persepolis bagus, nggak?

S: Bagus banget. Saya tadi cari komiknya tapi nggak ketemu, di toko buku Gramedia nggak ada.

AB: Dalam versi Indonesia judulnya bukan Persepolis, Sel. Penerbitnya menggantinya jadi Revolusi Iran Dongeng Seorang Anak. Tapi mungkin di Gramedia nggak ada juga, penerbitnya Resist Book. Dulu saya beli di toko buku Togamas.

S: Oh pantesan. (Tertawa) Pinjam, dong!

AB: Boleh. Ngomong-ngomong bagian mana yang paling berkesan buat kamu?

S: Waktu Marjane, si tokohnya, hidup sendiri tanpa keluarga setelah pergi dari Iran dan dia sempet jadi gembel.

AB: Kalau dipikir-pikir Marjane kan seumuran kamu waktu dia jadi gembel. Kamu jadi mau ngegembel juga, ya?

S: (Tertawa) Iya. Dia keren! Saya sih nggak bakal bisa kayak gitu.

AB: Jangan pesimis begitu. Kita kan nggak pernah betul-betul tahu.

S: Iya, sih. Menurut kamu?

AB: Saya sih selalu berniat buat membuka diri pada setiap kesempatan yang ada.

S: Maksudnya?

AB: Jangan takut dengan hal-hal baru. Apalagi kalau itu sesuai dengan apa yang kita yakini ... apa sih! Kalau saya berkesan banget dengan adegan waktu dia kembali lagi ke Iran, waktu dia jadi depresi. Di Austria merasa jadi orang asing, kembali ke Iran jadi orang asing lagi.

S: Iya yang itu. Keren, sedih. Ending-nya terasa gimana gitu ....

AB: Kalau kamu ada di posisi yang sama dengan Marjane: diselingkuhi pacar, dianggap orang asing dll, apa yang kamu lakukan? Kamu bakal ngegembel juga atau bagaimana?

S: Saya bakal melakukan hal yang sama, bakal jadi gembel!

AB: Kenapa?

S: Tapi kayaknya saya bakal nggak kuat mental. Ngegembel kan gila (Tertawa).

AB: Yee, terus bagaimana dong?

S: Saya mau jadi gembel, tapi kayaknya saya nggak bakalan kuat kalau dikasih masalah yang segitu banyak.

AB: Tapi kalo masalahnya sudah ada?

S: Yah dijalanin ....

AB: Tergantung kondisi, ya Sel?

S: Masalah kan membuat kita jadi dewasa, bukan waktu.

AB: Iya, sih.

S: Kalau kamu bagaimana?

AB: Saya ngegembel juga. Perasaan saya pasti campur aduk kalau mengalami hal seperti itu. Punya masalah kecil saja suka jadi stress-stress yang nggak penting.

S: Iya jadi aral! Dan depresi mendadak.***

 

ProsA liRIS, je t'aime

15 Jun. 08

 
Banyak juga anak-anak Reading Lights Writer’s Circle in Indonesian yang hadir pada kemarin sore. Ada Mirna, Devi the newcomer, Uli, Anas, Opik, Dea, Erick, Farida, Myra, Fadil, Wahyu the missing child, saya, dan Ina. Tiga belas orang! Padahal kali ini kami membahas sesuatu yang menurut saya agak berat: prosa liris. Kebayang dong bagaimana sesaknya smoking area toko buku Reading Lights yang memang bukan untuk tiga belas orang. Akhirnya kami hijrah ke lantai atas yang jauh lebih luas. Tikar digelar, bantal dibagi, makanan dipindahkan, pertemuan pun dilanjutkan.

 
Awal cerita bagaimana prosa liris terpilih jadi tema pertemuan The Circle minggu ini terjadi pada minggu lalu. Paska Opik membacakan tulisan yang ambigu itu, Myra berkomentar ada baiknya Opik menggunakan metafora yang punya asosiasi khusus dengan hal yang dimetaforakan (lihat posting minggu lalu).  Sebagai contoh, Myra menjanjikan akan membacakan sebuah prosa liris karya Dewi Lestari yang diambil dari buku Filosofi Kopi. Kata mahasiswi Sastra Inggris Universitas Padjadjaran angkatan 2004 itu, karya Opik mirip tulisan Dewi Lestari, agak-agak prosa liris. Dengan demikian, ditetapkanlah prosa liris sebagai tema pertemuan untuk minggu ini.

 
Diskusi tentang prosa liris kemarin dibuka dengan Myra yang membacakan Surat Yang Tak Pernah Sampai karya Dewi Lestari yang sarat dengan analogi. Begitu selesai, Myra menoleh ke arah Opik. “Tulisan lu juga kayak gitu, kan?” katanya. Opik mengiyakan. Myra lalu menjelaskan bagaimana Dewi Lestari memberikan pesan melalui tulisan yang beranalogi seperti yang juga dilakukan Opik. Dua-duanya sukar dipahami. Namun setelah dibaca berulang kali, pembaca akan mengerti tulisan Dewi Lestari karena analoginya menerangi pemahaman pembaca, bukan malah mengaburkan. Kemudian Anas membacakan contoh prosa liris yang dia ambil dari buku ... dari buku ... oh sial saya lupa! Tapi kalau nggak salah judulnya ada burung-burungnya, ya? Rupanya mendengar karya Dewi Lestari membuat Mirna, si titisan Narcissus, bersemangat untuk membacakan karya lamanya yang juga mengambil bentuk prosa liris. Menyadari bahwa prosanya, prosa Opik, bahkan prosa Dewi Lestari sama-sama tentang cinta, Mirna mengutarakan pendapatnya bahwa prosa liris umumnya ditulis saat: a) ketika seseorang jatuh cinta; dan b) ketika seseorang putus cinta. Saya jadi curiga sebetulnya Mirna masih punya stok prosa liris tentang jatuh cinta yang tidak dibacakannya.  “Tapi pas pertama kali si Opik nulisnya tentang telat kuliah, kok!” sahut Erick. Dea lantas menyetujui. Menurutnya prosa liris sebetulnya bisa tentang apa saja. Sebagai contoh, Dea membacakan prosa liris tentang bagaimana sifat-sifat plastik keresek mengingatkannya kepada Tuhan. Berhubung tidak ada di antara kami yang betul-betul tahu definisi dari prosa liris, maka yang bisa kami lakukan adalah meraba-raba. Caranya? Tidak lain dan tidak bukan adalah dengan menulis prosa liris-mu sendiri. Mirna menginstruksikan, tulis sesuatu sedang dirasakan, dan cobalah menggunakan analogi-analogi dalam penyampaiannya, waktu yang diberikan lima belas menit. Di tengah-tengah penulisan, saya tersadar bahwa tulisan saya terlalu absurd untuk dibacakan pada pertemuan ini. Tidak kehabisan akal, saya membuka-buka catatan harian saya sebelum tidur. Saya memilih secara acak paragraf yang kiranya menyerempet prosa liris, dan mengeditnya agar pantas dibaca. Ketika sesi membacakan dimulai, saya sedikit minder dengan tulisan teman lain yang memang bagus. Myra, Anas, Ina, Uli, Opik, Fadil, dan Devi bergantian mendapat komentar positif dari Dea, Mirna, atau Erick. Dengan kurang percaya diri saya membacakan tulisan ini,

 
18 Mei 2008. Kadang-kadang, barusan, saya mempertanyakan apa kegunaan dari menulis buku harian ini. Buat apa menulis daftar tugas? Toh buku ini hanya dibuka setiap saya hendak tidur. Dan kebanyakan hal yang saya tulis tidak lagi bermakna pada keesokan hari. Kadang-kadang saya berpikir bahwa saya ini palsu. Bukan. Saya berpikir orang lain berpikir bahwa saya palsu. Kelakuan saya semuanya palsu. Apakah memang begitu? Saya melihat diri saya sendiri dalam wujud teman saya, sebut saja X. Dan saya rasa dia palsu. Tadi saya mengecek profil friendster-nya dan tampak palsu. Bagaimana bisa seseorang menyatakan bahwa dirinya menyukai semua film Keanu Reeves seakan-akan ia telah menonton semua film Keanu Reeves. Seakan film sejelek apapun akan jadi bagus asalkan dibintangi Keanu Reeves. Saya melihat diri saya sendiri dalam diri X. Individu yang mengisi profil friendster-nya dengan segala aspek yang dianggapnya keren. Seakan orang akan membacanya dan merasa terkesan. Ataukah ini hanya dalam pikiran saya saja?

 
Ah, kalau salah biarin saja, pikir saya setelah membacakan. Dibantai juga nggak apa-apa, kalau ditertawakan saya malah bakal ikut senang. Tak disangka Mirna malah memberikan komplimen, “Ini adalah tulisanmu yang paling bagus dari tulisan-tulisan yang lain. Sangat intense! Kamu sangat efektif dalam menggunakan pengulangan-pengulangan.” Saya pun terbengong tidak percaya. Dodol! Yang benar saja? Bagaimana mungkin tulisan asal yang diambil dari catatan sebelum tidur itu lebih bagus daripada tulisan yang dikonsep berminggu-minggu-siang-dan-malam? Elu ngawur ah, Mir!

 
Kira-kira begitulah jalannya pertemuan mingguan The Circle kemarin. Maklumilah saya yang tak spesifik menuliskan setiap prosa liris yang dibuat oleh para peserta. Bukan karena tak mau, melainkan kemarin saya tak terpikir untuk mem-back up ingatan lemah saya dengan membuat catatan kejadian. Jadi mungkin tulisan ini kurang mewakili apa yang terjadi pada kemarin sore. Oh ya, saya sempat iseng membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebelum menulis diary ini. Menurut KBBI definisi prosa liris adalah ... well teman-teman, ternyata tidak ada definisi khusus tentang prosa liris di kamus ini. Alih-alih KBBI mencantumkan prosa lirik, yang didefinisikan sebagai prosa berima. Jemari saya lantas melompat mundur ke kurang lebih dua ratus halaman sebelumnya. Di sana mata saya menemukan kata ‘liris’, sebuah kata sifat yang bermakna emosional; penuh perasaan. Maka dapat dikatakan prosa liris merupakan prosa yang emosional, prosa yang penuh perasaan. Yea, betapa lebarnya pintu interpretasi terbuka untuk definisi  seperti ini.***

Saat Erick Tidak Hadir

7 Juni 08

 
Meskipun Erick tak hadir (Erick=sang fasilitator), pertemuan Klab Nulis Reading Lights hari Sabtu ini tetap diadakan. Yang bertemu adalah Dea, Anas, Opik, Ina, Nia, saya, dan Myra. Berhubung orang yang biasa memberikan latihan menulis sedang berhalangan, kali ini kami tidak melakukannya. Alih-alih, peserta yang membawa karya dipersilahkan membaca karya tersebut untuk nantinya dikomentari oleh kami semua.

 
Peserta pertama yang membaca karya adalah Dea. Jauh sebelum membacakan karyanya, ia sudah berpromosi kepada kami: “Eh, tulisan gua agak pahit, nih!” Terang saja kami semangat, apalagi kami terbiasa dengan karya Dea yang positif. Dan ketika gadis itu selesai membacakan karya, kami pun mulai berkomentar. Rupanya karya yang Dea bacakan adalah sebuah cerita yang sudah lama ada di dalam kepalanya. Sambutannya positif: Myra menyukai tema yang disinggung dalam cerita Dea, Anas suka dengan kalimat Dea yang pendek-pendek, kami semua bertanya tentang serba-serbi cerita ini dan mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Dea. Bertolak dari antusiasme Myra terhadap Dea yang menulis cerita yang pahit, Anas mengajukan sebuah pertanyaan menarik untuk kami semua: “Kalian lebih suka yang mana, sad ending atau happy ending? Mana yang lebih menyentuh?”

 
Dea menjawab happy ending, Myra sad ending, saya lebih suka yang menggantung, kata Nia sad ending, Ina menolak menjawab dengan mengatakan, “Nggak tahu.” Kami pun mendiskusikan alasan di balik jawaban masing-masing. Dea berpendapat, sebetulnya sad ending atau happy ending bisa sama-sama menyentuh tergantung dari isi cerita, namun ia juga sadar kecenderungan para penulis/sastrawan menulis cerita yang sad ending karena mereka mengutamakan realitas dan harus diakui sekalipun real tapi happy ending is too good to be true. Myra setuju, ia menceritakan pengalamannya ketika dulu ia menyukai sebuah buku berakhiran happy. Semakin lama Myra mendapati dirinya ill feel dengan buku itu, ia mendapati bahwa kenyataan tidak se-happy yang ada di buku. Myra merasa sebal karena ia merasa seharusnya buku tersebut menggambarkan realita yang dalam pandangan Myra sad ending. Anas menyampaikan teori menarik tentang bagaimana manusia berasal dari tanah (materi) dan kesedihan manusia bermuara dari lepasnya hal-hal yang bersifat materi dari kendali manusia. Saya mengangguk, saya lalu menceritakan bagaimana ketika kehilangan dompet tiba-tiba saya mendapati diri saya berucap, “Ya Allah, ya Allah,” lalu tiba-tiba saya marah-marah sendiri, “Apaan sih kamu? Malu-maluin saja. Baru kehilangan dompet sudah nyebut-nyebut Allah. Biasanya juga nggak.” Myra memberikan pendapat yang menguatkan teori tersebut, katanya bahkan untuk mendekat kepada Tuhan pun manusia berada dalam kesedihan, dengan beribadah sebetulnya manusia kehilangan materinya, katakanlah yang paling sederhana: kehilangan waktunya. Pertanyaan yang mengemuka adalah: Lantas bagaimana dengan orang yang merasa senang justru saat beribadah? Dea memberi tanggapan dengan menceritakan bahwa dalam keadaan senang pun ia merasa dekat dengan Tuhan. Ketika melihat kupu-kupu, Dea merasa bahagia. Ia merasa Tuhan juga melihat kupu-kupu bersamanya, ia merasa Tuhan memperlihatkannya kupu-kupu. Begitupun ketika senyumnya dibalas orang lain. "Apakah itu bersifat materi?" tanya Dea. "Tidak," jawab Anas.

 
Kami end up melanjutkan obrolan tentang kebahagiaan dan kesedihan ini sampai kurang lebih satu jam berikutnya. Myra mengemukakan bahwa ia selalu bersiap diri dalam menyambut kesedihan, dan menerima kegembiraan dengan tanpa persiapan, saya jadi bertanya-tanya, “Kenapa lu nggak menyambut kegembiraan dengan persiapan juga? Sekarang dengan elu yang menyambut kesedihan dengan persiapan, bagaimana kalau nantinya lu malah nggak bisa merasakan kegembiraan? Bagaimana kalau kegembiraan itu nggak akan pernah muncul lagi karena nggak pernah diappreciate dengan persiapan?” Nia menanggapi, “Cara Myra menghadapi kebahagiaan memang begitu. Dengan kesedihan, ia justru merasakan kebahagiaan.” Pada akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa seseorang menyikapi kebahagiaan dan kesedihan dengan caranya masing-masing/berpulang kepada diri masing-masing. Dea bilang mungkin ini perbedaan cara pandang orang-orang terhadap mana yang kebahagiaan dan mana yang kesedihan. Namun ketika menulis diary ini saya jadi kepikiran semuanya memang berpulang kepada diri kita masing-masing, tetapi bukankah dialog berperan penting dalam menumbuhkan rasa saling pengertian? Kalau sudah saling mengerti, maka akan tumbuh rasa saling menghormati. Toh pertanyaan yang terlontar tidak bertujuan untuk memojokkan atau mengintrusi otonomi orang lain, tetapi untuk memenuhi rasa penasaran. Kalaupun pertanyaan saya terdengar seperti memojokkan, maksudnya sih tidak begitu. Mungkin karena bersemangat, intonasinya jadi agak naik begitu.

 
Lalu Opik datang di tengah pertemuan. Ia pun membacakan karyanya. Seperti biasa karya Opik menggambarkan realitasnya dengan metafora-metaforanya. Masukan dari Myra: agar tulisan Opik bisa dimengerti oleh lebih banyak orang, ada baiknya ia menggunakan metafora yang punya asosiasi khusus dengan hal yang dimetaforakan. Saya menambahkan, kalau di dalam tulisan menggunakan metafora sebaiknya ada semacam penjelasan kenapa metafora itu digunakan, jadi pembaca memahami amanat dari si pengarang. Nia membandingkan tulisan Opik dengan Supernova Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, dua-duanya susah dibaca karena terlalu padat. Nia juga menceritakan kepada Opik langkah Dewi Lestari di karya-karya selanjutnya, yaitu menyederhanakan penuturannya.

 
Nia lalu membacakan karyanya yang memakai tiga sudut pandang. Anak muda, ayah yang juga dokter, dan seorang istri. Tulisan Nia ini disukai Opik. Myra bilang ia pernah membuat cerita yang mengalir dari sudut-sudut pandang yang berbeda juga. Saya suka cerita ini, tapi saya agak terganggu dengan Nia yang mencantumkan nama beberapa band seperti Radiohead, Bjork, Echobelly, dll, secara sekaligus untuk memberi clue bahwa si tokoh merupakan anak muda. Kelemahan dari cara ini adalah apabila seseorang merasa asing dengan nama-nama band tersebut maka clue dari Nia tidak akan tertangkap oleh mereka. Saya menyarankan Nia memilih satu lagu dari satu artis, untuk dituliskan liriknya. Contoh, lirik lagunya Bjork yang Triumph of a Heart . Kalau pembaca mengenali Bjork, tentunya ia tahu bahwa Triumph of a Heart adalah lagu yang joget banget, sangat anak muda. Kalaupun pembaca tidak mengenali Bjork, maka dari lirik semacam:

Smooth soft red velvety lungs
Are pushing a network of oxygen joyfully
Through a nose, through a mouth
But all enjoys, which brings us to
The triumph of a heart that gives all
That gives all

Akan memberikan gambaran bahwa lagu yang disukai si tokoh memang benar-benar riang. Keriangan khas anak muda yang tidak ingin dianggap terlalu riang sehingga ia mendengarkan Bjork yang dianggapnya aneh dan tidak terlalu riang secara eksplisit. Atau barangkali lu punya pendapat lain, Ni?

 
Terakhir Myra membacakan karya temannya yang ikut knitting club. Temannya itu menuliskan sebundel kumpulan cerpen, tapi yang dibacakan Myra yang banyak kata bunuh-bunuhnya, hahaha.

 
Beberapa saat setelah adzan maghrib berkumandang, Klab Nulis bubar teratur. Klab Nulis tanpa latihan menulis ternyata sangat enjoyable juga. Kami jadi mengobrol dan bertukar pikiran, komentar, sampai pengalaman masing-masing dalam skala yang lebih luas, sampai-sampai saya tidak mampu menuliskan semuanya dalam diary ini. Tanpa fasilitator, Klab Nulis menjadi berbeda dari Klab Nulis-Klab Nulis biasanya. In a good way.***

Hari Libur Terakhir, Saya Pun Menulis Diary

1 Juni 08

 
“Menulis fanfic melatih kita untuk lebih memahami karakter dan alam (setting) dalam cerita yang kita suka.” Begitu kira-kira perkataan Erick, fasilitator Klab Nulis Reading Lights, pada pertemuan mingguan hari Sabtu kemarin yang juga dihadiri oleh Aji, Myra, Uli, Alexandra the newcomer, saya, dan Anas.

 
Fanfic sendiri merupakan karya fiksi berdasarkan buku, film, acara televisi, atau media lainnya, yang dibuat oleh penggemar buku, film, acara televisi, atau media lainnya tersebut. Maksudnya dalam membuat fanfic, si penulis menggunakan setting, penokohan, maupun alur dari karya yang disukainya. Ditunjang dengan perkembangan teknologi internet, saat ini semakin banyak saja orang yang menulis fanfic—klik deh fanfiction.net. Semakin populer suatu karya, maka akan semakin banyak juga penggemar yang menulis fanfic berdasarkan karya tersebut.

 
Kira-kira bertolak dari pemikiran tersebut, tantangan bagi peserta Klab Nulis kemarin adalah membuat sebuah fanfic. Pertama-tama, semua diinstruksikan untuk menulis karakter, setting, dan lain-lain dari buku, film, atau serial televisi yang kami suka. Contoh: Harry, Ron, Hermione, setting Hogwarts. Walaupun begitu fanfic sebetulnya cukup fleksibel, dengan menggunakan tokoh-tokoh yang sama dengan serial Harry Potter setting fanfic bisa dipindah, katakan dari Hogwarts ke Tokyo. Atau setting-nya tetap Hogwarts tetapi karakternya diganti Julian, Dick, George, Annie, dan Timmy. Dipilih mana yang lebih merangsang imajinasi, lah. Lalu tulislah fanfic-nya!

 
Terakhir, kami membacakan fanfic masing-masing. Semua peserta muncul dengan karakter-karakternya yang khas: tulisan Myra berdasarkan Veronica Decides to Die karya Paolo Coelho, apabila di buku Paolo Coelho Veronica-nya hidup, di fanfic Myra Veronicanya mati dan menjadi jahat; folk tale lelaki peniup seruling pengusir tikus mempengaruhi fanfic Uli; Alexandra menulis bagian cerita dari Sandman-nya Neil Geiman yang menurutnya kurang terjabarkan; saya menggunakan karakter kakak-adik-benci-tapi-rindu, Vera dan Nadejda, dari novel A Short History of Tractors in Ukrainian; fanfic Anas berdasarkan film Swiss yang berjudul Vitus—ia mengubah settingnya jadi di Indonesia; tulisan Erick terinspirasi film Ada Apa dengan Cinta? dengan plot Rangga yang tak jadi pulang disertai penampilan cameo dari Cinta Laura; Aji menutupnya dengan membacakan cerita yang surprisingly orisinal tentang pertemuan Lucky Luke dengan The Beatles!

 
Kalau dipikir-pikir, berdasarkan pengalaman kemarin, ternyata menulis fanfic nggak hanya membuat kami belajar tentang unsur-unsur karya favorit masing-masing. Kami pun jadi semakin mengenali karakter tulisan kami sendiri, toh meskipun menulis fanfic kami masih tetap lekat dengan ciri khas penulisan masing-masing, ya kan?

Resensi Yang Ditolak

Elcrimendelpadre



















Judul Film: The Crime of Padre Amaro

Pemain : Gael Garcia Bernal, Ana Claudia Talancón, Sancho Gracia

 
The Crime of Padre Amaro
(TCOPA) bercerita tentang Padre Amaro (Gael Garcia Bernal), seorang pastor muda yang tugas pertamanya adalah melayani gereja di Los Reyes, sebuah kota kecil di Meksiko. Belum lama menjalani masa tugas, keimanan Padre Amaro sudah mendapatkan ujian dari Amelia (Ana Claudia Talancón), seorang ABG cantik yang pintar merayu. Padre Amaro juga mendapati bahwa seniornya, Padre Benito (Sancho Gracia), diam-diam akrab dengan tuan kecil setempat. Seakan itu belum cukup, hubungan gelap Padre Benito dan ibu Amelia pun terendus olehnya. Bertolak dari situasi seperti ini, Padre Amaro membuat keputusan yang nantinya akan ia sesali.

 
Saat masih kecil saya dan para pembantu keluarga kerap menonton sebuah telenovela, judulnya Maria Mercedes. Semua terkagum dengan warna-warni telenovela ini: Maria Mercedes-Jorge Luis Del Olmo yang beautiful, kemegahan rumah keluarga Del Olmo, sampai kelakuan menggemaskan tokoh antagonis, Malvina Del Olmo. Kami merasa dekat dengan kebudayaan Latin, terutama nilai religi dan kekeluargaannya. Semakin besar, bersekolah membuat saya tak bisa lagi menonton Maria Mercedes yang ditayangkan pagi-pagi. Meskipun begitu kenangan menyenangkan tentang telenovela membuat saya berasumsi baik kepada film-film Amerika Latin, termasuk TCOPA.

 
TCOPA diadaptasi bebas dari novel O Crime Do Padre Amaro (1875), karya penulis Portugis José Maria Eça de Queirós. Dengan tema yang mengritik gereja katolik, film produksi Meksiko ini sempat menuai kontroversi saat masyarakat katolik di sana berupaya agar pemerintah mencekal film ini. Namun upaya itu gagal dan film arahan Carlos Carrera ini menjadi box office hit di Meksiko. Tidak tanggung-tanggung, TCOPA sukses menembus nominasi Academy Award dan Golden Globe Award tahun 2002 kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Apakah TCOPA memang sebaik itu?

 
Saya menemukan hal-hal familiar yang menyenangkan saat menonton TCOPA: kehangatan budaya Latin, kekentalan kehidupan beragama, dan yang terpenting ada unsur melodrama yang kuat dalam film ini—peringatan bagi para pembenci telenovela. Saya juga menikmati akting Gael Garcia Bernal yang memerankan pastor muda yang mendapat pelajaran dari pengalaman. Adapun hal yang menurut saya mengganggu, TCOPA mengritik gereja katolik dengan searah. Dalam film ini tak sekalipun gereja katolik diberi kesempatan membela diri. Padahal bukankah kritik yang baik membuka interaksi? Selain itu saya menikmati menonton film ini. TCOPA cukup berhasil menjaga prasangka baik saya pada film-film Amerika Latin.

Libur Telah Tiba, Sebagai Selingan Saya Pun Menulis Diary 1

25 Mei 2008

 
KLAB NULIS

Pemeran tetap musim ini:

Uut, Myra, Opik, Fadil, Aji, Anas, Erick, dan saya sebagai Andika Budiman.

 
Memperkenalkan:

Gilang, editor buku pelajaran yang beralih menjadi editor fiksi.

 
Recurring Characters:

Selvi, the missing child.

Mirna, eks-pemeran tetap yang meninggalkan opera sabun Australia Neighbours demi mengejar karir di Inggris sebagai bintang pop. Seperti biasa ia melanjutkan perannya sebagai fasilitator yang narsis, tak bisa diam, dan ... ehm, perhatian.

 
Plot:

Berlatarkan toko buku Reading Lights kegiatan pada Klab Nulis Sabtu kemarin adalah latihan menulis dialog. Pertama-tama kami diinstruksikan Mirna untuk menulis deskripsi kurang lebih sepuluh kalimat. Contoh, Myra menulis:

 
Bim-bim dan Sevrin berada di sebuah kamar 4 x 4 milik tante Sevrin. Ruangan dengan kasur, meja baca, dan beberapa kotak kardus yang mengindikasikan ruangan itu tidak terpakai. Bim-bim fokus pada layar komputer, sementara Sevrin duduk malas-malasan di tempat tidur dengan laptop di pangkuannya sambil sekali-sekali memijit-mijit pundaknya. Tidak adanya ventilasi udara membuat ruangan itu tidak panas. Atap-atap yang tinggi dan kelembapan di dalam ruangan itu menjadi alasan Bim-bim dan Sevrin tetap mengetik tanpa mengeluhkan suhu udara.

 
Instruksi kedua, deskripsi kami yang kami tulis dibacakan dan ditukar dengan deskripsi peserta lain. Berdasarkan deskripsi dari peserta lainlah masing-masing menulis sebuah sebuah dialog yang akan dibacakan sebagai tugas akhir latihan ini. Berdasarkan deskripsi Myra di atas saya menulis:

 
“Mas Har kurang asem!” seru Sevri sambil menampar kasur yang didudukinya. “Paper lagi. Paper lagi. Padahal kalau nggak ada paper aku mau pulang ke Surabaya!”

Bim-bim hanya tersenyum mendengar keluhan gadis itu. Matanya terpaku pada monitor komputer, memilah-milah data yang dikeluarkan oleh search engine. Sejenak ia membiarkan Sevri beristirahat.

“Tapi untung paper-nya per kelompok, ya Bim! Jadi kan nggak terlalu berat!” Sevri kembali asyik dengan laptopnya.

Jempol Bim-Bim teracung. “Begitu dong! Positive thinking, bagianku juga sudah hampir selesai, kok! Penyebaran fast food dan sifat-sifat fast food. Kalau begini terus bisa, deh! Paper MIHI kita selesai hari ini!”

Sevri pun tersenyum. Jemarinya kian lincah mengetik keyboard laptopnya. “Menurut kamu bagaimana, Bim? Film Super Size Me termasuk, nggak?” Sevri meminta pendapat.

“Kamu sudah berapa halaman?” tanya Bim-bim.

“Baru tiga!”

“Kalau begitu masukkan saja Super Size Me sebagai counter culture budaya fast food!” saran Bim-bim.

Setelah beberapa saat copying, pasting, editing, dan memasukkan referensi, Bim-bim mengumumkan, “Aku sudah selesai! YM kamu dinyalain, dong!”

Sevri tertawa. “Memang kamar kos kamu ini ada wi fi nya?”

Tawa Bim-bim pecah juga. “Iya, ya. Kebiasaan ngerjain tugas di Senpus kebawa-bawa sampai ke sini.”

“Laptop kamu nggak bervirus, kan Bim?” tanya Sevri sembari menangkap USB yang dilontarkan Bim-bim.

“Nggak ada. Tapi discan saja buat jaga-jaga,” jawab Bim-bim. Ia pun pindah duduk ke sebalah Sevri, kepalanya menengadah menghadap plafon kamar kosnya. Mulut Bim-bim setengah terbuka.

 
 “Gagal,” keluh saya setelah membacakannya.

 
Pointless,” tambah Mirna menyetujui.

 
Tentu saja tidak berakhir di hasil akhir. Saya lantas tergugah untuk menggali apa yang terjadi di dalam proses penulisan sehingga tulisan saya menjadi pointless. Setelah berpikir sejenak, saya rasa dalam pembuatan tulisan ini saya terlalu hati-hati. Belum apa-apa saya sudah menetapkan standar: harus logis, tak boleh berlebihan, harus bagus, dll. Sebetulnya nggak terlalu salah juga, saya nggak mau mempermalukan diri di depan Mirna, hahaha. Namun standarisasi menjadi salah ketika hal itu membatasi saya untuk menulis dengan bebas—memasukkan semangat menulis ke dalam kotak-kotak yang sempit. Standarisasi juga salah kalau itu membuat saya melupakan tujuan awal dari latihan ini: membuat dialog. Seharusnya saya mencoba menulis dialog yang menjadi basis dari cerita. Namun yang saya lakukan adalah memutuskan tema cerita tertentu, memaksanya masuk ke dalam deskripsi, dan menjadikan dialog soal belakang. Bukannya mendahulukan membuat dialog yang pas, saya malah mendahulukan membuat cerita yang nyata buat saya: tugas-tugas kuliah jahanam dan usaha mahasiswa dalam menunaikan kejahanaman itu. Dan ini salah besar. Tidak heran tulisan saya menjadi a very boring conversation.

 
Di akhir diary kali ini saya ingin menyampaikan kekaguman saya kepada Mirna. Jadi kemarin ia sempat mengritik tulisan Opik dengan agak dalam. Lalu Opik bertanya, “Tulisan Kakak sudah dimuat di mana saja?” Agak offensive menurut saya. Saya kira Mirna akan memberi Opik jawaban bernada tinggi, tak disangka anak itu menjawab dengan ceria, “Tulisan saya yang diterbitkan baru buku pesanan orang. Ada juga proyek-proyek yang nggak selesai. Kalau cerpen sih banyak di internet, search deh Freyja Gryffin. Saya berani mengritik karena saya membaca banyak!” Saya tertegun butuh kematangan emosi untuk menjawab pertanyaan offensive dengan sebaik itu. Sungguh Mirna keren minggu ini!